Header Ads

Iklan Mu

Situs Pulutan, Candi Hindu yang Tersembunyi di Gunung Kidul

Situs Pulutan

SuaraYudha News - Di tengah lahan tandus dan kapur yang ditumbuhi pohon jati, terdapat sebuah situs arkeologi yang menyimpan sejarah dan kebudayaan masa lalu. Situs Pulutan, atau yang juga dikenal dengan Situs Butuh, adalah sebuah candi Hindu yang berusia ratusan tahun. Situs ini baru ditemukan pada tahun 1986 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPCB DIY) dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya dengan nomor registrasi R0028/TACBGK/06/2018.

Situs Pulutan terletak di Dusun Butuh, Kelurahan Pulutan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Yogyakarta dan dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua atau empat. Situs ini menempati areal berupa tegalan dengan ketinggian 167 m dari permukaan laut. Di sekitar situs terdapat makam, jalan kampung, sungai, dan pemukiman penduduk.

Situs Pulutan merupakan peninggalan arkeologi berupa candi berlatar belakang agama Hindu. Candi ini dibangun dari batu kapur putih yang tersusun dengan sistem takikan. Candi ini diperkirakan berukuran 5,5 x 5,5 m dengan indikasi pintu dan tangga di sisi timur. Di sebelah selatan pintu masuk candi terdapat lingga semu yang berfungsi sebagai brahmasthana atau titik pusat candi. Di sebelah selatan reruntuhan struktur dinding ditemukan arca Agastya, salah satu tokoh penting dalam agama Hindu. Di sebelah barat ditemukan arca Ganesa, dewa yang berkepala gajah dan merupakan putra dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Di bagian tengah struktur candi terdapat sumuran berbentuk persegi yang masih utuh.

Situs Pulutan merupakan salah satu dari sedikit peninggalan cagar budaya dari masa Klasik di Gunung Kidul. Masa Klasik adalah periode sejarah Indonesia yang berkisar antara abad ke-4 hingga abad ke-15 Masehi, ketika kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha berkembang di Nusantara. Situs Pulutan menunjukkan bahwa daerah Gunung Kidul pernah menjadi bagian dari kebudayaan Hindu yang meluas di Jawa pada masa itu.

Dalam sejarah perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah termasuk di wilayah DI Yogyakarta terpusat di daerah kawasan Prambanan dan Kalasan dengan peninggalan yang sangat monumental yaitu Kompleks Candi Prambanan di Prambanan, Candi Sambisari, Candi Kedulan dan masih banyak candi-candi berlatar belakang agama Hindu di daerah perbukitan seperti, Candi Barong, Candi Ijo, Candi Miri, dan masih banyak lagi. Candi-candi tersebut berasal dari masa abad VIII- X Masehi. Untuk kawasan Gunungkidul sangat minim data-data mengenai perkembangan agama Hindu. Hanya ada beberapa situs candi di kawasan Gunungkidul yang sebagian besar sudah tidak utuh lagi seperti Candi Plembutan, Situs Gambirowati, dan Situs Pulutan.

Sejarah tentang kapan berdirinya Candi Pulutan sampai sekarang belum diketahui secara pasti, hal tersebut disebabkan adanya keterbatasan data arkeologis. Namun berdasarkan temuan arca Ganesha, Agastya, dan Durga dapat dipastikan bahwa Situs Pulutan merupakan struktur bangunan candi berlatar belakang agama Hindu. Agama Hindu berkembang di Jawa Tengah sekitar abad VIII- X M. Perkembangan agama Hindu di wilayah Gunungkidul sangat sedikit datanya, namun demikian adanya temuan struktur candi seperti Candi Plembutan, Situs Gambirowati, dan Situs Pulutan membuktikan bahwa pada sekitar abad VIII - X agama Hindu sudah berkembang di wilayah Gunungkidul. Candi-candi periode Klasik Jawa Tengah memiliki langgam arsitektur yang dikenal sebagai candi gaya Mataram Kuno (abad VIII-X) dan pada umumnya ditemukan dalam gugusan (kompleks) atau berdiri sendiri. Apabila berdiri sendiri dalam satu kompleks maka halamannya terdiri dari satu lapis atau lebih dengan memusat atau konsentris pada candi induk (Prasada) seperti pada kompleks Candi Prambanan dan Candi Sambisari. Kompleks Candi Prambanan dan Candi Sambisari memiliki tiga halaman dan sebagai pusatnya adalah candi induk. Candi induk dianggap sebagai rumah dewa (dewa grha) dan dewa Siwa sebagai Mahadewa (lingga) menempati ruang utama (garbha-grha). Batas penggambaran ruang atau halaman di Candi Prambanan dan Candi Sambisari diperlihatkan dengan adanya pagar halaman. Pagar halaman berjumlah tiga tingkat dan pada halaman pusat atau yang terdalam merupakan halaman yang paling suci. Halaman kedua di luarnya dianggap sebagai halaman yang semi suci atau semi profan, sedangkan halaman terluar atau ke III dianggap sebagai halaman yang profan. Begitu pula secara vertikal bangunan candi dari bawah ke atas juga melambangkan pula tempat para dewa. Kaki candi sebagai bhurloka merupakan dunia bawah yang di kuasai maheswara, tubuh candi sebagai bhuwarloka merupakan dunia yang dikuasai oleh Sada-sidi dan atap sebagai swarloka dikuasai oleh Parama Siwa sebagai dewa yang tertinggi. Dalam pengamatan dan hasil penelitian di Situs Butuh atau Pulutan belum diketahui secara pasti sejauh mana sebaran bangunannya. Berdasarkan data temuan struktur hasil ekskavasi tahun 2015 diperkirakan bentuk bangunannya kecil berukuran 5,5 x 5,5 m dengan tinggi bangunan belum diketahui. Namun demikian keberadaan Situs Candi Pulutan sangat penting untuk dilestarikan dan masih memungkinkan untuk dilakukan penelitian-penelitian lanjutan sehingga sangat penting bagi obyek pembelajaran dan penelitian terutama arkeologi dan sejarah.

Situs Pulutan telah mengalami proses ekskavasi penyelamatan pada tahun 2012 oleh BPCB DIY. Ekskavasi ini bertujuan untuk mengungkap data-data arkeologis yang terkait dengan situs ini, serta untuk melindungi situs ini dari kerusakan akibat faktor alam dan manusia. Ekskavasi ini juga menghasilkan temuan-temuan lain seperti fragmen arca, gerabah, manik-manik, dan mata uang kuno.

Untuk melestarikan Situs Pulutan, BPCB DIY telah melakukan berbagai upaya, seperti kajian zonasi, pembebasan lahan, pemagaran situs, dan penempatan juru pelihara. Kajian zonasi situs Pulutan dilakukan berdasarkan atas keseimbangan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Mengacu pada konsep dasar zonasi tersebut, penentuan zonasi situs Candi Pulutan disesuaikan dengan kondisi eksisting lingkungan yang ada. Hasil pengukuran zonasi kawasan Candi Pulutan adalah sebagai berikut:

- Zona I, merupakan zona inti situs, yaitu bagian situs yang ditetapkan sebagai bagian perlindungan mutlak yang dikonservasi secara ketat sehingga perubahan yang terjadi di bagian ini harus dilakukan secara terbatas terencana. Deliniasi zona I ini dapat disamakan dengan pagar kawat situs yang mengelilingi Candi Pulutan.
- Zona II, adalah zona penyangga, merupakan bagian yang dapat dipakai sebagai kegiatan penunjang proses interpretasi dan penyajian informasi, yang dapat dialokasikan pada kawasan antara Zona I dan Zona III. Di bagian ini dapat diselenggarakan berbagai kegiatan maupun berbagai fasilitas (prasarana dan sarana) penyajian informasi. Namun, semua fasilitas tersebut harus bersifat semi permanen dan mudah dipindahkan, serta tidak mengganggu kelestarian candi dan informasi yang ada, termasuk juga potensi warisan budaya yang mungkin ada di bawahnya.
- Zona III, adalah zona pengembangan, merupakan area untuk penempatan fasilitas penunjang kegiatan wisata, baik berupa tempat parkir, kios cindera mata, homestay, dan MCK umum. Namun, pengembangan zona III ini harus dikendalikan dengan regulasi tertentu agar tidak berdampak kurang menguntungkan bagi kelestarian candi.

Pembebasan lahan seluas 3000 m2 pada tahun 2016 dilakukan untuk memperluas kawasan situs dan memberikan ruang bagi pengembangan fasilitas penunjang. Pemagaran situs dan penempatan juru pelihara dilakukan untuk menjaga keamanan dan kebersihan situs, serta untuk memberikan informasi dan pelayanan kepada pengunjung. Juru pelihara juga bertugas untuk mengawasi dan melaporkan kondisi situs secara berkala kepada BPCB DIY.

Situs Pulutan merupakan warisan budaya yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Situs ini menjadi saksi bisu dari peradaban dan keagamaan masa lalu yang perlu dilestarikan dan dipelajari. Situs ini juga menjadi daya tarik wisata sejarah dan edukasi bagi masyarakat luas. Situs Pulutan menantang kita untuk mengenal lebih jauh tentang sejarah dan kebudayaan Indonesia yang kaya dan beragam.


Sumber:


Situs Pulutan D155244. Situs Pulutan sebelum dilakukan ekskavasi D155654. Temuan runtuhan struktur batu Situs Candi Pulutan Temuan runtuhan struktur batu Situs Candi Pulutan Situasi runtuhan struktur batu Situs Candi Pulutan D155252. Situs Pulutan sebelum dilakukan ekskavasi Situasi runtuhan struktur batu Situs Candi Pulutan Situasi Situs Candi Pulutan setelah diurug kembali Arca Ganesha, temuan hasil ekskavasi 2012 Arca Agastya, temuan hasil ekskavasi 2012 Batu lapik, kemungkinan sisa fragmen arca Durga, temuan hasil ekskavasi 2012

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.