Header Ads

Iklan Mu

Kasus Kematian Ternak Mendadak di Paliyan, Diduga Akibat Anthrax

Kasus Kematian Ternak Mendadak di Paliyan, Diduga Akibat Anthrax

SuaraYudha News - Sebuah kejadian mendadak terjadi di Pampang Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, dimana beberapa ternak sapi ditemukan mati secara tiba-tiba. Kejadian ini menimbulkan kecurigaan akan kemungkinan wabah penyakit anthrax yang mungkin telah muncul kembali.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, spesialis Mikrobiologi, spora dari bakteri Bacillus anthracis—yang dapat bersumber dari hewan yang disembelih atau dari lingkungan ternak—sangat tahan lama dan dapat bertahan di tanah hingga puluhan tahun. Spora ini tidak terbentuk di dalam tubuh hewan yang hidup, namun saat hewan tersebut disembelih, bakteri yang ada dalam darah yang terpapar udara akan membentuk spora.

Spora Bacillus anthracis merupakan penyebab utama penyakit anthrax, yang dapat menular baik pada hewan maupun manusia. Oleh karena itu, isolasi ketat pada hewan yang terserang anthrax dan lokasi yang menjadi sumber penyakit ini sangat dianjurkan. Tidak ada lalu lintas ternak yang diizinkan keluar masuk lokasi, dan hanya petugas yang sudah ditetapkan yang boleh memasuki wilayah tersebut.

Pentingnya biosekuriti ditekankan, serta pengobatan pada hewan yang sakit dengan antibiotik, antiseptik, atau desinfektan yang efektif membunuh bakteri pada suhu di atas 54 derajat Celsius selama 30 menit. Vaksinasi juga disarankan untuk hewan yang sehat, dilakukan dua kali setahun.

Dosen Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Don, menambahkan bahwa untuk mencegah penyebaran penyakit anthrax, tidak boleh ada pemotongan hewan yang sakit atau konsumsi daging dari hewan yang sudah mati. Daging bangkai berisiko tinggi karena bisa menularkan zoonosis ke manusia. Sebagai contoh, tahun lalu di Semanu, tercatat 11 orang tertular dan satu orang meninggal akibat penyakit ini.

Kasus Kematian Ternak Mendadak di Paliyan, Diduga Akibat Anthrax
Untuk hewan yang mati diduga karena anthrax, sebaiknya dikubur atau dikremasi di lokasi. Jika tidak ada alat kremasi, maka penguburan dengan penimbunan dan pengecoran dilakukan untuk mencegah spora menyebar. Edukasi dan literasi mengenai hal ini sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Pihak berwenang dan peternak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari penyebaran penyakit ini lebih lanjut.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.