Ungkrung, Kuliner Musiman yang Jadi Sumber Penghasilan Ibu-Ibu di Gunungkidul
SuaraYudha News - Ungkrung atau ulat jati adalah salah satu kuliner musiman yang digemari oleh masyarakat Gunungkidul, khususnya ibu-ibu. Ungkrung adalah larva dan pupa dari ngengat Hyblaea purea yang hidup di pohon jati. Ungkrung biasanya muncul pada awal musim hujan, ketika daun-daun jati yang meranggas mulai tumbuh kembali.
Untuk mendapatkan ungkrung, ibu-ibu harus berburu di kebun-kebun jati dengan mengorek tanah atau menyingkap dedaunan. Sebagian hasil berburu ungkrung mereka jual dan sebagian dijadikan lauk sendiri untuk dimakan bersama keluarga. Ungkrung jika dijual harganya sekitar 40.000 sampai 60.000 rupiah per kilogram.
Menurut Eddy Guano, salah satu warga asli Gunungkidul yang gemar mengkonsumsi ungkrung, kebiasaan mengkonsumsi satwa yang tidak lazim ini bermula dari masa gaber (krisis ekonomi dan musim paceklik di tahun 1960-an). Pada saat itu, masyarakat Gunungkidul harus pintar-pintar memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya, termasuk serangga seperti ungkrung.
Ungkrung memiliki rasa yang gurih dan renyah, mirip seperti udang. Ulat dan kepompong yang baru diambil dari pohon akan dibersihkan bulunya dan dikukus untuk menghilangkan racun di kulitnya. Setelah matang, ungkrung bisa digoreng dengan bumbu bacem, bumbu balado, atau bumbu lain sesuai selera.
Ungkrung tidak hanya lezat, tetapi juga halal untuk dikonsumsi. Hukum asal makanan adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkan. Ulat jati pun tidak termasuk makanan yang menjijikkan, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu.
Ungkrung menjadi lambang kearifan masyarakat Gunungkidul dalam memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya. Kuliner musiman ini pun mulai dicari oleh para wisatawan yang penasaran dengan rasanya.
Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk mencicipi ungkrung? Jika ya, segera datang ke Gunungkidul sebelum musim ungkrung berakhir. Selamat mencoba!

IndiBiz (Bisnis)
Indihome
Tidak ada komentar